;

Kisah khut gwan (asal usul Bacang)

Hari raya twan yang emang bersamaan dengan hari peringati khut gwan.
Berikut kisahnya:

pada zaman cian kok dinasti ciu terdapat 7 negara yang kuat yakni cee, cho, yan, han, thio, gwi dan chien. Negeri chien lah yang paling kuat dan agresif, sehingga keenam negeri tersebut sering bersatu untuk hadapi negeri chien.
Khut gwan lah yang paling berjasa dalam menyatukan negara tersebut.
Khut gwan seorang menteri besar dari negeri cho 340-278 SM.
Suatu hari raja negeri cho yakni cho hway ong mendapat undangan kerajaan dari neperi chien, Khut gwan berusaha menghalangi rajanya untuk memenuhi undangan tsb,
tetapi raja cho tidak mendengar khut gwan, bahkan khut gwan mendapat hukuman. Banyak menteri yang tidak suka dengan khut gwan terutama orang dari negeri chien, nama baik khut gwan sering dijatuhkan di hadapan raja cho, akhirnya khut gwan dipecat dari jabatannya, dan pecah juga persatuan keenam negara tsb.
Pada saat raja cho hway ong mati di tangan negeri chien, raja cho diganti oleh cho cing siang ong, khut gwan diberi kepercayaan untuk menyatukan ke enam negara itu lagi.
Tahun 293SM negeri han dan gwi melawan negeri chien. Dan rakyat han dan gwi banyak yang dibantai.
Dengan peristiwa ini khut gwan kembali di tuduh akan membawah negeri cho mendapat hal yang sama jika melawan negeri chien. Akhirnya khut gwan di hukum dan di buang ke daerah danau tong ting dekat dengan sungai biak loo.
Khut gwan yang bercita-cita berbakti kepada negara dan rakyat justru mendapat hukuman.
Dia sangat putus asa, berkat kebijakan kakak perempuannya khut su, akhirnya dia rela menerima hukuman itu. Beliau pada saat itu mendapat kenalan seorang nelayan dengan nama samaran gi hu. Hanya dengan gi hu lah beliau berbincang untuk lewati hari. Mereka sangat akrab.
Waktu negeri cho di hancurkan oleh chien, khut gwan sudah lanjut usia, khut gwan mendapat kesedihan dan tidak dapat buat apa2.
Ketika itu kebetulan hari suci twan yang beliau mendayung perahu ke tengah sungai bik loo (hunan) sambil nyayi lagu ciptaannya yang mencurahkan cinta tanah air dan rakyat. Rakya banyak yang tertegun mendengarnya.
Setelah agak jauh, beliau menerjunkan diri ke dalam sungai yang deras, nelayan pada mencarinya dengan perahu kecil. Tetapi tidak ketemu.

Akhirnya setiap tahun tepatnya pada hari raya twan yang, gi hu membawa sebuah tempurung berisi beras dituangkan kedalam sungai untuk mengenang dan menghormati kembali khut gwan. Banyak orang yang mengikuti jejak gi hu waktu itu.
338 tahun kemudian, seorang yang bernama Au hue pada siang hari bertemu seseorang yang mengaku dirinya khut gwan yakni sam li tai hu. Dikatakan bahwa beras yang dikirimkan kepadanya semuanya di makan oleh naga-naga dan ikan di sungai. Dan beliau meminta agar bila mengirimkan beras supaya menutupnya dengan daun yang tajam dan mengikatnya dengan benang sutra.
Sejak itu lah di gunakan daun bambu untuk bungkus beras tsb dengan bentuk kerucut persegi tiga, supaya ikan dan naga tidak bisa memakannya maka lahirlah kue bacang.

Jadi tidak heran bila hari raya twan banyak kue bacang dan diadakan lomba perahu naga, yang mengingatkan usaha pencari terhadap khut gwan.

0 komentar:

Pasang emoticon dibawah ini dengan mencantumkan kode di samping kanan gambar.

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...